Posted by: gurindampena | August 7, 2008

Raja Ali Haji, Sosok Alternatif dan Lingua-Franca

Di Komplek pemakaman Raja Hamidah Pulau Penyengat yang saya ziarahi, ikut terbaring Raja Ali Haji, pujangga Melayu di awal abad 20. Meski dikenal sebagai Kompleks Makam Engkau Putri, nama lain Raja Hamidah, tapi yang menonjol adalah atribut formal untuk penghormatan Raja Ali Haji. Tentu, tanpa menghilangkan peran dan jasa para bangsawan lain yang dimakamkan di sana. Apalagi secara simbolik Raja Hamidahlah sesungguhnya pemilik Pulau Penyengat, sebab merupakan mas kawin pernikahannya dengan Sultan Mahmud Syah III. Raja Hamidah pula pemegang relegia (alat-alat pusaka) kerajaan dan melegitimasi pengangkatan sultan.

Sungguh pun begitu, ”penghormatan” khusus yang ditujukan kepada Raja Ali Haji dapat dimaklumi. Lihatlah, dua ”baliho” berdiri kokoh di gerbang makam, yang merujuk kebesaran sang pujangga: ”Raja Ali Haji Pahlawan Nasional Bidang Bahasa Indonesia” dan sebuah lagi: ”Raja Ali Haji Bapak Bahasa Melayu-Indonesia, Budayawan di Gerbang Abad XX”. Ia menjadi pahlawan nasional berdasarkan Keppres RI no. 089/TK/2004. Meski tidak ”setenar” sang pujangga, Raja Haji Fisabilillah, datuknya, yang juga ayah Raja Hamidah, sudah lebih dulu menjadi pahlawan nasional berdasarkan Keppres RI No.072/TK/1997.

Mengapa saya anggap ”penghormatan” itu sangat wajar bahkan menarik? Tidak lain, karena peran dan jasa Raja Ali Haji sebagai pujangga dan ahli bahasa, dapat dianggap khusus jika tidak khas. Yakni, seorang yang berjuang dalam ranah budaya, terutama bahasa dan sastra, di tengah dominannya super-hero dalam sejarah perjuangan bangsa kita. Raja, Sultan, Bangsawan, atau Yang Dipertuan Agung dari khazanah Kerajaan, hingga para pemimpin Republik, cenderung memenuhi halaman sejarah dengan perlawanan heroik bersenjata, persoalan kalah-menang, hitam-putih, dan teriakkan ”Merdeka atau Mati!”, ”Ganyang” dan ”Revolusi!” Di tengah situasi menekan-mendesak semacam itu, kehadiran sosok atau tokoh yang berbeda, seperti dari ranah pendidikan, budaya, seni, dan diplomasi, terasa sangat mencerahkan. Semacam oase dan tempat persinggahan. Itu pula yang kita dambakan hingga hari ini sebenarnya. Di tengah dominannya sosok dan tokoh politik, ekonomi dan selebriti — yang sangat memuakkan dan tidak mengubah keadaan — kita membutuhkan sosok alternatif. Yakni, mereka yang mampu menghidupkan dan mengolah potensi dari khazanah yang terlupa dalam hidup kita berbangsa, terutama dua bidang: budaya dan pendidikan.

Demikianlah, lama saya terpaku di depan gerbang makam Raja Ali Haji dengan segala penghormatannya itu. Saya tahu, itu semua hanyalah atribut. Tapi toh, di tengah gerimis Pulau Penyengat, saya memaknai atribut itu secara lebih luas. Setidaknya, saya kembali diajak untuk memasuki referensi tentang Raja Ali Haji, yang selama ini hanya saya kenal dalam ikon massal; pengarang ”Gurindam Duabelas”. Padahal, ia juga menulis sejumlah karya tentang bahasa, sejarah, dan tata krama. Di antara karyanya, sebagaimana dicuplik oleh Maman S. Mahayana (1995: 160), adalah Tuhfat al-Nafis (1282 H) berisi silsilah Raja-raja Melayu, Bugis, Siak, dan Johor, sampai berdirinya Singapura oleh Rafles. Tamratu – L-Muhamad Rajulah berisi tentang sopan-santun pergaulan; Syair Siti Syarah berisi nasehat menjadi wanita yang baik; Suluh Pegawai tentang hidup bermasyarakat.

Karya Raja Ali Haji yang mengurai soal bahasa ialah Bustan al-Katibin (1850) dan Kitab Pengetahuan Bahasa (1858). Buku pertama memuat penjelasan tentang pembagian kelas kata yang sampai hari ini masih relevan, dan yang kedua merupakan kamus monolongual Melayu pertama yang disusun penduduk pribumi. Kamus ini mencakup juga kosa kata Melayu yang dipergunakan bangsa-bangsa serumpun di wilayah Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura dan Brunai Darussalam.

Sosok dan karya Raja Ali Haji, akan mendapat pandanan yang lebih luas lagi jika dikaitkan dengan bahasa Melayu yang sejak berabad-abad lalu menyandang fungsi sebagai lingua-franca. Yaitu, bahasa pemersatu yang berkembang secara luas di bandar-bandar Nusantara. Terlepas dari campur-tangan kolonial yang membutuhkan keadaan monolingual untuk mempertalikan daerah jajahan, bahasa Melayu-Riau memang punya potensi besar dicerap lidah berbagai bangsa. Pusat penyebarannya strategis: di gerbang lalu-lintas dunia, Selat Malaka. Para pemakainya meluas dari Semenanjung Malaysia, Riau daratan, Kalimantan, dan pulau-pulau sekitrnya. Membuat bahasa ini tidak saja gampang diakses dan akomodatif terhadap berbagai etnik Nusantara, tetapi juga menjadi pelintas-batas bangsa serumpun.

Upaya Raja Ali Haji menyusun kamus dan tata-bahasa Melayu, yang notabene ibu bahasa Indonesia itu, merefleksikan pandangan jauh ke depan, terutama dalam wacana bahasa kawasan. Jika mau jujur, momentum inilah yang dihidupkan kembali oleh Sutan Takdir Alisyahbana, sosok alternatif lain tanah air, yang bercita-cita besar menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa pergaulan internasional. Untuk itu STA berjuang keras menyatukan persepsi dengan bangsa serumpun seperti Malaysia, Singapura, Brunai, termasuk Thailand dan Filipina bagian selatan, tentang pentingnya bahasa Melayu sebagai bahasa kawsan. Maklumlah, jumlah pemakainya paling besar di dunia, kawasan penyebaran strategis dan eksistensinya sebagai bahasa utama di beberapa negara.

Sayang sekali, rintisan Raja Ali Haji dan perjuangan STA dalam batas tertentu tampaknya kandas. Setiap wilayah kemudian mengembangkan tata-bahasa Melayu dengan caranya sendiri, sehingga banyak yang tidak nyambung. Ungkapan kosa-kata Malaysia misalnya, di telinga kita terasa aneh dan janggal, begitu pula sebaliknya. Padahal ia lahir dari rumpun yang satu, dan jauh-jauh hari sudah punya ”rambu-rambu” sebagaimana diupayakan Raja Ali Haji. Kenyataan ini, ikut ‘menyumbang’ renggangnya hubungan bangsa-bangsa satu kawasan, sebab kita tahu, bahasa adalah jiwa bangsa. Ketika jiwa itu kehilangan ‘ruh’-nya, hilang pula rasa memiliki yang hakiki. Cekcoknya hubungan Indonesia-Malaysia dalam beberapa kasus misalnya, mungkin tidak perlu terjadi, jika kedua bangsa bisa terus-menerus melangsungkan ”diplomasi budaya” melalui khazanah bahasa serumpun yang setara kedudukan maupun pengertiannya.

Setali tiga uang, kenyataan dalam negeri uga tak jauh berbeda. Bahasa Indonesia semakin menisbikan asal-usulnya: bahasa prokem ala Jakarta kian merajalela, tidak saja dalam percakapan sehari-hari, juga dalam produk budaya seperti film dan media massa, bahkan karya sastra! Ironis dan menyedihkan. Akibat kosa kata dan tata-bahasa yang kian kabur, kian berjaraklah kita dengan bangsa serumpun; sementara di tanah air sendiri, terciptalah jarak psikologis antara mereka yang ndeso dan mereka yang merasa metropolis. Terlebih karena Jakarta — termasuk bahasanya yang terlanjur dianggap ‘keren’ itu — telah diasosiasikan sebagai segalanya. Dalam situasi seperti ini, Penyengat, Raja Ali Haji, STA dan segala hal alternatif, terutama yang berkaitan dengan khazanah lingua-franca sungguh sangat berarti ”diziarahi” kembali. Sumber: BaliPost

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: